Berkunjung ke 3 Desa Wisata di Lombok yang Memesona

Sukarara Lombok - Desa Wisata di Lombok - Rahmawatie Yopie - 7

Desa wisata di Lombok – Di penghujung tahun 2018 lalu, tepatnya pada tanggal 1-2 Desember 2018, saya dan suami mengikuti Familiarization yang diadakan oleh Trip Genpi Lombok Sumbawa. Di hari kedua trip ini kami akan diajak berkeliling ke 3 desa wisata di Lombok, yaitu desa wisata Sukarara, desa wisata Penujak, dan desa wisata Sasak Ende.

Sebelumnya di hari pertama begitu tiba di bandara Lombok, kami dijemput oleh teman-teman dari Genpi Lombok Sumbawa, dan langsung mengikuti trip ke beberapa Gili, yaitu Gili Gede, Gili Rengit, dan Gili Layar.

Baik, sekarang saya mau cerita perjalanan kami di hari kedua. Mengunjungi beberapa kampung wisata di Lombok.

Baca juga yang ini ya:
* Sehari Menikmati Keindahan Wisata Sembalun Lombok

Kain tenun Lombok - Desa Sukarara - Desa Wisata di Lombok - Rahmawatie Yopie - 1Desa Wisata di Lombok - Rahmawatie Yopie - 2
Seorang ibu sedang menenun.
Desa Sukarara - Desa Wisata di Lombok - Rahmawatie Yopie - 1
Bisa mencoba pakai baju adat Lombok di Patuh Gallery Desa Sukarara.

Desa Wisata Sukarara

Lombok merupakan salah satu daerah yang memiliki cukup banyak obyek wisata yang indah. Wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah. Semua asri dan memesona.

Di hari kedua setelah sarapan di hotel dan rombongan telah berkumpul, kami pun berangkat. Saya dan suami dalam satu mobil yang yang dikendarai oleh Kak Jacky ditemani oleh Kak Ihsan.

Sama seperti hari sebelum, kami berempat masih tetap dalam satu mobil yang sama. Desa wisata di Lombok yang akan kami kunjungi pertama adalah Desa Sukarara.

Lokasi Desa Sukarara berada di Jonggat, Lombok Tengah. Jaraknya 25 kilometer atau sekitar 30 menit dari kota Mataram. Desa wisata Sukarara ini terkenal sebagai desa penghasil kain tenun tradisional dan songket asli Lombok.

Kain tenun Lombok - Desa Sukarara -Desa Wisata di Lombok - Rahmawatie Yopie - 4
Produknya banyak. Baju, tas, peci, dompet, dan lain-lain.

Kain tenun Lombok memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Menggunakan motif atau desain yang berbeda dengan kain tenun dari daerah lain. Banyak yang menyukai kain dan motifnya.

Begitu tiba di salah satu galeri, kami disambut dengan ramah oleh seorang warga yang bertugas sebagai pemandu. Patuh Gallery yang kami kunjungi ini menjual hasil tenun asli dari warga desa sekitar. Produknya berupa kain, selendang, topi, tas dan pernak-pernik lainnya. Saya tertarik dengan tas tenun selempangnya, akhirnya membeli sebuah dengan harga yang termasuk murah, Rp 125.000.

Di Galeri ini kita dapat melihat secara langsung ibu-ibu suku Sasak yang menenun kain. Kita pun bisa mencoba menenun kain dengan dipandu oleh ibu-ibu penenun. Diajari cara menenun ala Lombok.

Bagi yang ingin berfoto menggunakan pakaian adat, disediakan oleh galeri. Tidak perlu membayar sepersenpun alias gratis. Dan jangan lupa foto-foto di halaman belakang. Ada beberapa bangunan adat Lombok di sana.

Sukarara Lombok - Desa Wisata di Lombok - Rahmawatie Yopie - 7
Bangunan adat di bagian belakang Patuh Gallery.

Desa wisata Penujak

Desa kedua yang kami kunjungi bernama desa Penujak. Desa ini pernah jaya dengan produksi gabahnya yang rutin dikirim ke Bali dan juga beberapa negara.

Lokasi Desa Penujak berada di kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah.

Saat rombongan kami parkir kendaraan, Kepala Desa bersama perangkatnya dan beberapa warga menyambut kami dengan hangat. Ada kawan Genpi Lombok yang domisili di Penajak.

Warga Desa Penujak berharap sekali kunjungan kami ini bisa kembali mengangkat desa mereka. Produk gerabah mereka laris di banyak galeri di Bali. Namun sejak kejadian bom Bali, permintaan gerabah dari Penajak langsung turun drastis sampai hari ini.

Di Penajak, kami mendapat suguhan berupa proses pembuatan gerabah dari awal sampai akhir. Dari masih berupa tanah liat, proses pembentukan, pembakaran, dan akhirnya sampai polesan akhir. Sebuah atraksi wisata yang menambah pengetahuan kita tentang gerabah.

Gerabah desa Penujak - Desa Wisata di Lombok - Rahmawatie Yopie - 5
Desa wisata di Lombok ini menawarkan atraksi pembuatan gerabah.

Disini kami disuguhi kopi dan teh, sambil berbincang-bincang seputar Gerabah. Seorang warga bercerita sejarah desa Penujak menjadi penghasil gerabah pertama di Lombok sebelum desa-desa lainnya. Bermula dari seorang warga asing yang mampir di Penujak dan mengajari mereka cara membuat gerabah.

Gerabah Desa Penujak terdiri dari aneka bentuk. Ada yang menjadi mangkuk, piring, gelas dan kendi. Bahkan ada yang membuah menjadi meja dan kursi yang kuat diduduki orang dewasa.

Terdapat pula galeri yang menjual gerabah hasil kerja warga desa. Gerabah yang menurut saya paling unik adalah gerbah bernama Kendi Maling.

Uniknya kendi maling ini, walaupun bagian bawah dari kendi ada lubang tetapi air yang dimasukkan melalui bagian bawahnya, tidak tumpah saat dibalikkan.

Desa Sasak Ende - Desa Wisata di Lombok - Rahmawatie Yopie - 6
Bersama Yayuk gadis cilik Desa Sasak Ende. Salah satu desa wisata di Lombok yang unik dan memesona.

Desa Wisata Sasak Ende

Desa ketiga adalah Sasak Ende. Lokasi di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Gapura desa terbuat dari bambu dan jerami, ada tulisan “Selamat Datang di Kampung Sasak Ende”.

Memasuki bagian dalam kampung terasa sekali kehidupan sehari-hari warga desa yang masih memegang teguh adat budayanya. Seoarang warga yang bertugas sebagai guide (pemandu) menyambut kami. Lalu mengajak kami berkeliling desa dan menjelaskan banyak sekali budaya masyarakat Sasak Ende.

Terdapat kurang lebih 30 buah rumah adat di komplek desa. Bangunannya terbuat kayu dengan dinding dari anyaman bambu. Sedangkan atapnya dari jerami. Bagian bawah rumah berupa tanah yang dipadatkan. Lalu lantai dipoles dengan kotoran kerbau.

Kotorannya diambil dari kotoran pertama yang keluar dari kerbau di pagi hari. Kotoran ternak di pagi hari lebih segar dan belum dihinggapi oleh lalat.

Manfaat rutin dilulur dengan kotoran sapi/kerbau sebagai pengganti semen, adalah untuk mengusi nyamuk dan memberi kehangatan di malam hari.

Pintu masuk rumah dibuat agak rendah, sehingga siapapun yang memasuki rumah harus menunduk. Ini sebagai simbol penghormatan kepada pemilik rumah.

Bagian dalam rumah biasanya terdapat dua ruangan. Satu sebagai dapur dan tempat penyimpanan, satu ruangan lain sebagai tempat tidur para wanita. Para pria tidurnya diluar rumah.

Saat ini mayoritas warga kampung Sasak Ende sudah beragama Islam, karena itu dibagikan depan desa di sebelah kanan jalan masuk terdapat musholla. Namun lantai musholla ini sudah berupa semen.

Berkeliling desa melihat anak perempuan yang sedang menenun, ternyata adat dari suku Sasak, anak perempuan harus belajar menenun dari kecil dan sebagai syarat untuk dia menikah, bila belum bisa menenun belum boleh menikah.

Gendang Beleq

Di sini kami dihibur dengan pertunjukkan seni Gendang Beleq. Pertunjukan alat musik tradisional suku Sasak berupa gendang besar dan tariannya. Ada satu alat musik tiup terbuat dari bambu.

Peresean

Atraksi kedua adalah Peresean, dibawakan oleh pemuda desa.Peresean adalah pertarungan antara dua laki-laki yang bersenjatakan tongkat rotan dan berperisai dari kulit kerbau yang tebal dan keras.

Setelah pertunjukan yang cukup mendebarkan namun tetap indah dilihat ini, gantian anak Sasak yang masih SD menghibur kami. Tarian perang yang keras jadi terlihat lucu dengan gerak gerik mereka.

Setelah itu, bagi pengunjung yang ingin mencoba dipersilakan maju. Tiga kawan Genpi Lombok pun mencobanya. Dua yang bertarung dan satu sebagai wasit/penengah.

Baca ini juga:
* Parade 1000 Mandau di Festival Mahakam 2018

Desa Wisata di Lombok yang Mengesankan

Melihat secara langsung budaya Lombok yang selama ini hanya saya lihat di majalah dan televisi ini memang sangat menyenangkan. Terlebih menambah pengetahuan saya tentang Lombok.

Bukan hanya alamnya yang indah, budaya di 3 desa wisata di Lombok yang saya kunjungi ini juga indah dan mengesankan.

Sharing is caring!